Rabu, 19 September 2018

Mundur Satu lLagkah untuk Dapat Berlari Mencapai Garis Finish

Diposting oleh mirefasdiari di 07.10



Image result for queensland university
Dialog antara impian dan realita
Dialog antara actual self and ideal self

Kebiasaan menulis sebelum tidur, membuatku terbangun di malam hari. Saya tidak mau melewati momen ini, momen yang begitu berharga untuk dilewati,  karena di saat inilah saya bisa berbicara dengan diri sendiri, my inner-self, The who need to be listened and understood.

Setelah resign dari pekerjaan sebelumnya, setahun yang lalu, banyak ide yang bermunculan di pikiran saya tentang bagaimana bisa survive untuk mengembangkan ide dan berkarya walaupun hanya dari rumah.  Berbagai rencana bisnis telah saya diskusikan dengan suami,  namun tidak ada satu pun yang terealisasikan. Salah satu faktor yang menjadi penghambat adalah keraguan dari diri saya sendiri. Pertanyaan bagaimana cara memulainya? Belum satu rencana terealisasikan sudah bermunculan ide yang lain, dan akhirnya saya hanya diam dan tidak pernah melakukan apapun. 


Sekarang?  Setelah melahirkan, ketika han han sudah mulai bisa diajak kerja sama,  saya mulai menyemangati diri saya sendiri,  mengumpulkan energi supaya bisa produktif,  mulai dari mencari pekerjaan baru,  berbisnis kecil2an, yaitu menjual dessert (jangka pendek es krim,  pudot,  jangka menengah, jar cake,  jelly art,  jangka panjang  cup cake dan tart),  dan mulai rutin menulis. Dengan aktivitas saya sekarang,  saya menjadi lebih baik,  perlahan tapi pasti,  saya menjadi pribadi yang lebih bersemangat dari sebelumnya, dan bisa memperoleh social connection. That’s what I’m searching for,  some good stuffs for maintaining my mental health. 

Namun,  dibalik semua keberhasilan kecil yang saya lakukan saat ini,  saya tidak bisa menampik kalau saya masih memikirkan  salah satu mimpi besar saya, yaitu menjadi Art therapist.  Mimpi yang sudah Lama ingin saya wujudkan semenjak 2012. Ketika resign dari pekerjaan lama, saya berjuang mati2 an demi mengejar mimpi tersebut,  mulai dari memperoleh LoA dari Queensland University , belajar IELTS mati-matian menjelang kelahiran dan awal memiliki anak, dan memperoleh beasiswa.  Sayangnya, mimpi itu harus terhenti karena saya tidak memperoleh beasiswa dari Australia Scholarship Awards,  dan IELTS saya belum cukup untuk memperoleh unconditional LoA dan apply beasiswa lain. 


Berhubung,  dana di tabungan pun pas-pasan  untuk mengikuti course IELTS dan ujiannya,  dengan sangat berat hati,  mimpi tersebut harus saya hentikan dan saya mengubah haluan,  membanting stir 180 derajat,  dan memilih berfokus kepada anak saya.  Saya hanya bisa berpikir positif,  mungkin ini belum saatnya.  Masih ada tugas yang lebih mulia yang harus saya lakukan yaitu merawat anak saya.  Saya pun berusaha untuk mengikhlaskannya.  Saya hanya bisa berdoa,  semoga suatu saat nanti saya memperoleh jalan untuk mewujudkan mimpi besar saya,  dan di saat yang tepat segala jalan akan di permudah dari memperoleh nilai IELTS hingga beasiswanya.  Yakinkan hati,  yakinkan diri kalau Tuhan tidak akan pernah diam,  Dia tidak melupakan bagaimana usaha saya selama bertahun2  untuk mewujudkan mimpi saya,  Dan banyak hal yang saya korbankan.  Tuhan pasti membantu saya. Saya harus yakin dan percaya.  Insya Allah. 

Sekarang,  yang harus saya lakukan adalah mengikhlaskannya dan fokus pada kehidupan saya, dan berusaha menjadi seorang Ibu dan istri yang baik. Yakin jika ada kesempatan semua pasti akan berdatangan. 

Mundur selangkah untuk bisa berlari, 
Mengalah pada ego untuk bisa mewujudkan mimpi saya

Semoga selalu dipermudah jalannya


0 komentar:

Posting Komentar

 

- Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos